Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Intermezo. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Juli 2010

My Wedding (Part I)

Duuh … dah lama nggak ngeblog, kangeeeen … banget rasanya. Banyak alasan yang membuatku (dulu) tak bisa sering-sering posting di blog. Alasan utama dan paling klasiknya adalah : SIBUK!!! Hehehe …
Anyway, sambil dengerin Justin Bieber yang punya suara manis ini, aku akan berbagi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup. Ya, momen itu adalah pernikahanku. Mitsaqan ghaliza yang dilaksanakan pada tanggal 3 Juli 2010 tepat pukul 07.30 WIB pagi.

Rabu, 13 Januari 2010

Kasih Ayah

Seorang pemuda mengharapkan sebuah sepeda motor sport dari ayahnya. Lantas si pemuda memberitahu keinginannya kepada ayahnya. Si ayah hanya tersenyum. Si anak bertambah yakin jika ia dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik, ayahnya akan membelikannya motor.

Sabtu, 26 Desember 2009

Bobot, bibit, bebet

Dilema cewek kampung seusiaku adalah terus dicecar pertanyaan “Kapan kawin?”. Sebel banget kalo orang-orang terdekat yang udah lama nggak jumpa, sering jumpa, & tak pernah jumpa always menanyakan pertanyaan itu-itu aja. Mo dijawab “Maybe yes, maybe no”, langsung dapet pelototan Emak, dituduh nggak sopan sama orang tua. Mo dijawab jujur juga bingung gimana harus jawabnya. Niat nggak jawab, eh, itu gerombolan penanya justru makin getol tanya-tanya yang ujung-ujungnya (sumpah!) bikin aku bete abis!
Gimana nggak bete, coba? Jodoh di tangan Tuhan. Mosok kita mo mendahului kersane Gusti Allah? Bisa kualat aku nanti. Tuhan saja masih belum mengeluarkan ijin kawin, masak aku udah seenak udelku sendiri menentukan kapan aku akan nikah, kawin, punya anak, dan dapet cucu?

Jumat, 25 Desember 2009

Moral Hilang

Pak Bijak dan Bu Santun bingung. Sudah seminggu ini, Moral, anak semata wayangnya berubah sikap secara misterius. Moral yang semula riang dan ceria tiba-tiba murung dan pendiam. Celoteh-celotehnya menghilang diganti kesunyian yang pekat. Nafsu makannya menurun drastis dan semangatnya untuk bersekolah sudah mulai meluntur.

Kondisi Moral yang memprihatinkan membuat Bu Santun bersedih. Dengan seijin Pak Bijak, ia membawa Moral ke seorang dokter. Tidak tanggung-tanggung, dokter yang mereka tuju adalah dokter terbaik di Bumi Rempah ini. Biaya jasanya sungguh mahal. Namun, uang tak menjadi soal bagi Bu Santun asalkan anaknya Moral kembali sehat dan ceria seperti sedia kala.
Next Post Back to Top